Ini Strategi MedcoEnergi Bangun Bisnis Berkelanjutan •
PLTGU Riau 275 MW di Kawasan Industri Tenayan, Pekanbaru, Riau. Pembangkit listrik ini dioperasikan oleh PT Medco Ratch Power Riau, perusahaan patungan antara PT Medco Power Indonesia dan RATCH Group Public Company Limited.
Tangerang, – PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) kembali menegaskan komitmennya untuk terus melakukan langkah terukur dalam membangun bisnis berkelanjutan. Apalagi, langkah ini secara tidak langsung juga mendukung upaya pemerintah dalam menangani pemanasan global akibat perubahan iklim.
Manager of Capital Market MedcoEnergi, Ridho Wahyudi, menjelaskan upaya dan komitmen perusahaan dalam membangun bisnis dengan pertumbuhan berkelanjutan ini bertujuan untuk memberikan nilai dan imbal hasil jangka panjang bagi para pemegang saham dan juga berkontribusi terhadap pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi. Dengan begitu, kelangsungan bisnis ini dapat terus dipertahankan untuk generasi mendatang.
“Kami akan tetap fokus pada peningkatan prinsip-prinsip Environment, Social, Governance (ESG) dengan target terukur sesuai strategi perubahan iklim kami dan memperluas portofolio energi terbarukan demi mencapai Net Zero Emissions (NZE) untuk Cakupan 1 dan 2 pada 2050 dan Cakupan 3 pada tahun 2060,” papar Ridho pada sesi presentasi kepada media di ajang the 47th Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) 2023 di ICE BSD, Selasa (25/7).
Menurutnya, komitmen ini merupakan bagian dari peta jalan pembangunan bisnis berkelanjutan MedcoEnergi sejak tahun 2017. Salah satu upaya dalam mencapai NZE ini adalah dengan melakukan transisi energi.
MedcoEnergi pun terus berupaya melakukan transisi energi menuju energi rendah karbon yang terjangkau. Transisi energi juga menyangkut pemanfaatan teknologi baru hingga isu sosial, ekonomi, serta lingkungan.
“Secara tidak langsung, langkah ini juga mendukung upaya pemerintah dalam menangani pemanasan global akibat perubahan iklim,” tegas Ridho.
Salah satu langkah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) adalah dengan mengurangi penggunaan energi dan meningkatkan efisiensi aset. Hal ini tercermin dalam pencapaian berbagai inisiatif pengurangan emisi GRK (flaring) di aset-aset pada tahun 2022, dengan estimasi pengurangan mencapai 96.000 tCO2e/tahun. MedcoEnergi juga menjajaki peluang pemanfaatan teknologi terkini untuk pengurangan dan offsetting melalui penangkapan karbon.
“Perusahaan berkeyakinan dengan terus menerapkan strategi perubahan iklim dan melakukan transisi energi dapat terus meningkatkan pertumbuhan usaha, mempertahankan keberlanjutan bisnis, berkontribusi pada penurunan emisi yang dicanangkan Pemerintah Indonesia, serta memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ridho menyampaikan bahwa MedcoEnergi melakukan pendekatan terhadap keberlanjutan bisnis dengan berpedoman pada tiga pilar utama: kepemimpinan dari dan oleh pekerja kami, pengembangan sosial dan lingkungan hidup, serta pemberdayaan masyarakat lokal.
Sepanjang lima tahun terakhir, MedcoEnergi pun telah meningkatkan kinerja keberlanjutan bisnisnya dalam pengelolaan lingkungan, manajemen sosial, pemberdayaan masyarakat lokal, kesehatan dan keselamatan kerja, serta tata kelola. Walhasil, perusahaan meraih berbagai pencapaian signifikan di akhir tahun 2022 lalu.
Sejalan dengan kemajuan implementasi perubahan iklim dan transisi energi, MedcoEnergi juga mengedepankan program pengembangan masyarakat yang berkesinambungan demi terciptanya masyarakat mandiri di wilayah sekitar daerah operasinya.
Portofolio MedcoEnergi hingga Semester I-2023.
Bisnis Utama
Sebagai perusahaan energi dan sumber daya alam terkemuka di Asia Tenggara, menurut Ridho, MedcoEnergi pun terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan energi dan sumber daya alam yang berkelanjutan di wilayah tersebut. Untuk itu, MedcoEnergi terus melakukan pengembangan usaha dengan fokus terhadap tiga segmen bisnis utamanya, yaitu minyak dan gas, ketenagalistrikan yang bersih dan berkelanjutan serta pertambangan tembaga dan emas.
Di bidang minyak dan gas, MedcoEnergi terus melanjutkan proyek-proyek utama, yaitu lapangan Forel dan Bronang di PSC South Natuna Sea Block B, lapangan Suban di PSC Corridor dan pengembangan fase 2 PSC Senoro-Toili.
Pengembangan-pengembangan lapangan migas baru tersebut juga didukung dengan perpanjangan kontrak jual beli gas di blok Natuna dan blok Corridor yang memperpanjang umur cadangan (reserve life) dan keberlanjutan dari blok-blok migas tersebut.
Sementara di ketenagalistrikan, melalui anak usahanya PT Medco Power Indonesia, MedcoEnergi berkomitmen untuk menyediakan energi bersih dan terbarukan dengan mengembangkan pembangkit listrik tenaga gas, geothermal, surya dan mini hidro.
Setelah sukses merampungkan proyek PLTGU Riau 275 MW dan PLTS Sumbawa 26 MWp pada tahun 2022, Perseroan melanjutkan pengembangan proyek geothermal 34 MW fase 1 di Blawan-Ijen, Jawa Timur dan pengembangan PLTS 2×25 MWp di Bali sehingga ditargetkan kapasitas terpasang dari energi terbarukan mencapai 26 persen di tahun 2025 dan 30 persen di tahun 2030.
Di bidang pertambangan tembaga dan emas, melalui Amman Mineral Nusa Tenggara, MedcoEnergi juga berkomitmen untuk membangun bisnis yang berkelanjutan dengan mengkonversi energi dari pembangkit listrik tenaga (PLTU) batubara 112 MW dan diesel 45 MW menjadi PLTGU berkapasitas 450 MW. Fasilitas ini didukung dengan terminal penyimpanan dan regasifikasi LNG di Teluk Benete.
“Dengan kapasitas sebesar itu dan didukung PLTS Sumbawa 26 MWp akan dipakai untuk mendukung kegiatan pertambangan yang nantinya akan meningkat dengan dioperasikannya smelter dan perluasan pabrik konsentrator,” ungkap Ridho.
