Indonesia Tegaskan Komitmen Majukan CCS di Forum IICCS 2023 •
Skema pemanfaatan teknologi CCS di lapangan Tangguh, Papua Barat, yang dioperasikan oleh bp Indonesia.
Jakarta, – Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) atau Carbon Capture and Storage (CCS) menjadi strategi penting dalam mendukung transisi energi dan mencapai target pengurangan emisi. Aplikasi teknologi ini memungkinkan keberlangsungan suplai energi yang berkelanjutan, memberikan solusi karbon pada beragam industri di seluruh dunia dan meningkatkan perekonomian serta lapangan pekerjaan sebagai sebuah industri baru.
Di antara negara-negara yang berada di garis depan inisiatif ini, Indonesia dengan potensi penyimpanan karbon yang cukup signifikan menjadi negara yang memiliki kelebihan kompetitif sebagai pilihan utama investasi proyek CCS. Indonesia pun dengan bangga telah mengumumkan dedikasinya untuk memerangi perubahan iklim melalui penerapan teknologi CCS.
Komitmen ini sekali lagi ditegaskan dalam International & Indonesia Carbon Capture and Storage Center (IICCS) Forum 2023, yang diluncurkan akhir Mei 2023 lalu oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut B. Panjaitan. Melalui forum ini, Pemerintah akan terus mendorong inovasi dan kerjasama dalam penerapan CCS.
Sebagai salah satu penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia, Indonesia menyadari urgensi untuk mengatasi tantangan iklim dan mengambil tindakan proaktif guna mengurangi jejak karbonnya secara signifikan. Adopsi solusi CCS menandai langkah penting dalam mencapai tujuan keberlanjutan bangsa sekaligus mendorong masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan bagi generasi yang akan datang.
Adalah bp Indonesia di antara perusahaan yang telah mendorong proyek CCS di Indonesia. Perusahaan asal Inggris ini memainkan peran kunci dengan komitmennya yang kuat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Sebagai salah satu dari perusahaan energi multinasional terkemuka yang telah beroperasi di Indonesia lebih dari lima dekade, bp membawa keahlian, teknologi dan kemampuan finansial yang diperlukan untuk mewujudkan inisiatif CCUS/CCS di Indonesia. Implementasi teknologi ini sangat penting dalam mendukung transisi energi yang dipandang, baik oleh pemerintah maupun industri, sebagai solusi dekarbonisasi yang dapat dijalankan secara efektif dan signifikan.
Di lapangan gas Tangguh, Papua Barat, untuk tahap awal, bp Indonesia berencana menginjeksikan lebih dari 30 juta ton CO2 kembali ke reservoir untuk meningkatkan produksi gas sebesar 400 bcf melalui teknologi Enhanced Gas Recovery (EGR). Tangguh CCUS akan menjadi proyek CCUS skala besar pertama dengan EGR di dunia.
Dengan kapasitas penyimpanan sekitar 1,8 GtCO2, Tangguh berada di posisi yang baik dan memiliki peluang luar biasa untuk menjadi CCS hub pertama di Indonesia yang dapat dimanfaatkan penghasil emisi di dalam dan luar negeri.
Proyek Tangguh CCUS menjadi proyek CCUS terdepan di Indonesia dengan rencana pengembangan yang telah mendapatkan persetujuan dari Pemerintah tahun 2021 lalu. Sementara pekerjaan FEED sedang berlangsung, dan rencana project sanction dilakudalam kurun waktu mendatang. Proyek ini memiliki potensi untuk menjadi CCS hub pertama di Indonesia dan kawasan ASEAN. Dengan dukungan Pemerintah dalam menyediakan kerangka regulasinya, Tangguh CCUS akan menjadi pelopor bagi sejumlah proyek CCUS/CCS lainnya di Indonesia.
Pemerintah Indonesia menyambut baik inisiatif ini dan menyatakan dukungannya dalam mendorong perkembangan teknologi CCS di Indonesia. Pemerintah pun menekankan pentingnya kerjasama sektor publik dan swasta dalam mencapai tujuan bersama dalam mengatasi perubahan iklim.
Hal itu disampaikan oleh Jodi Mahardi, selaku Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kemenko Marves dan juga Dewan Pengawas ICCSC (Indonesia Carbon Capture and Storage Center).
Menurut Jodi, kolaborasi ini menjadi kunci dalam mencapai target pengurangan emisi dan menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang serta dengan potensi besar yang dimiliki Indonesia untuk menjadikan CCS hub di Kawasan ASEAN sehingga investasi ini akan memberikan multiplier effect bagi negara dalam hal pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan.
“Pemerintah Indonesia dan ICCSC mendukung penuh upaya investor seperti bp Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan lainnya dalam memajukan CCS,” ungkapnya.
bp telah menjadi mitra strategis Indonesia selama lebih dari 55 tahun. Jejak-jejak bisnis bp di Indonesia terdiri dari LNG Tangguh sebagai produsen gas terbesar di negara ini, pelumas Castrol, perdagangan, dan yang teranyar adalah bisnis bahan bakar minyak (BBM) ritel dan pesawat terbang, dengan total investasi sebesar $ 15 miliar hingga saat ini.
Di Papua Barat, bp hadir melalui LNG Tangguh, yang merupakan lapangan gas dengan produksi terbesar di Indonesia. Menyumbang ~20 persen dari produksi gas nasional, membukukan total investasi ~US$ 10 miliar, mengirimkan >1.500 kargo dengan aman, serta menghasilkan pendapatan sebesar ~US$ 10,1 miliar (Rp 152 triliun) bagi pemerintah.
Ketika Kilang (Train) 3 Tangguh beroperasi nanti, bisnis tiga kilang LNG ini akan menyumbang sekitar 35 persen dari produksi nasional.
“Pemerintah berharap semangat kolaborasi yang telah ditunjukkan oleh bp akan mendorong kerja sama yang lebih kuat antara pemerintah dan pelaku industri hulu migas. Kolaborasi sangat diperlukan untuk membangun regulasi dan semua kebijakan terkait. Pemerintah yakin CCUS/CCS akan berdampak positif terhadap upaya dekarbonisasi yang sedang ditempuh Indonesia secara bersama-sama,” ujar Jodi.
