Ini Strategi Freeport Indonesia Pangkas Emisi •
Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, saat menjadi narasumber dalam diskusi panel Sustainability Action for The Future Economy (SAFE) 2023 bertema “Reducing Emissions in Indonesia’s Mining Sector,” di Jakarta, Selasa (26/9).
Jakarta, – PT Freeport Indonesia (PTFI) berkomitmen untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 30 persen pada tahun 2030. Perusahaan tambang tembaga kelas dunia ini pun telah merumuskan strategi dekarbonisasi yang berfokus pada bisnis dan operasional pertambangan.
Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, menyampaikan bahwa pada tahun 2022, PTFI berhasil menekan emisi dari kegiatan operasional tambang bawah tanah sebesar 22 persen. Salah satu inovasi yang dilakukan dalam upaya pengurangan emisi tersebut adalah penggunaan alat angkut bijih tambang bertenaga listrik.
“Kami menggunakan sistem kereta listrik otomatis bawah tanah yang dapat mengangkut 110 ribu ton bijih per hari. Ini menggantikan truk-truk besar berbahan bakar diesel. Alat angkut ini mampu mengurangi emisi karbon sekitar 80 ribu metrik ton per tahun,” ungkap Tony pada acara Sustainability Action for The Future Economy (SAFE) 2023 bertema “Reducing Emissions in Indonesia’s Mining Sector,” Selasa (26/9).
Upaya lain yang dilakukan PTFI dalam mengurangi emisi adalah menggunakan pembangkit listrik (power plant) baru berteknologi dual fuel engine, baik pada kegiatan operasi di hulu maupun hilir. Saat ini, PTFI meningkatkan penggunaan energi berkelanjutan dengan mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) berkapasitas 128 megawatt (MW), yang akan ditingkatkan menjadi 168 MW.
PTFI juga bakal mengganti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan batubara dengan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) berkapasitas 267 MW pada tahun 2027. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 62 persen.
“Semoga semua bisa tercapai sesuai rencana sehingga PTFI dapat benar-benar berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon seperti yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia,” ucapnya.
Menurut Tony, berbagai upaya yang dilakukan tersebut merupakan bagian dari penerapan praktik bisnis yang bertanggung jawab, dengan pendekatan aspek ESG (Environmental, Social, dan Governance).
“Responsible miners adalah mereka yang melaksanakan good mining practices dengan mempertimbangkan ESG,” ungkapnya.
