Ini Peluang Perbankan untuk Terlibat dalam Dekarbonisasi Energi •
Direktur Konservasi Energi, EBTKE, Kementerian ESDM, Gigih Udi Atmo, saat tampil sebagai pembicara dalam salah satu sesi talkshow di Indonesia Knowledge Forum 2023 bertema “Eco-Creation: Empower Sustainability through Partnerships and Digitalization,” yang diselenggarakan BCA, Selasa (10/10).
Jakarta, – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menjajaki penguatan sektor permodalan bersama perbankan untuk mempertegas upaya dekarbonisasi energi atau pengurangan emisi rumah kaca. Ini menjadi peluang bagi sektor perbankan untuk ikut andil.
Direktur Konservasi Energi, Ditjen EBTKE, Kementerian ESDM, Gigih Udi Atmo, menyampaikan bahwa perbankan dapat turut berkontribusi dalam upaya dekarbonisasi energi dengan menerapkan efisiensi dan penghematan energi di kantor atau gedung. Tidak hanya itu, perbankan juga bisa memberikan pembiayaan kepada proyek-proyek energi terbarukan (EBT) seperti pembangkit listrik tenaga surya, angin, uap dan air.
“Bank-bank dapat memberikan pembiayaan untuk proyek-proyek EBT dan upaya penghematan energi. Konkretnya perbankan bisa menyasar perusahaan tekstil yang ingin menggantikan sumber energi listrik dari batubara dengan ETB, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti risiko, tingkat pengembalian, dan dampak lingkungan,” ungkap Gigih saat tampil sebagai pembicara dalam salah satu sesi talkshow di Indonesia Knowledge Forum (IKF) 2023 bertema “Eco-Creation: Empower Sustainability through Partnerships and Digitalization,” yang diselenggarakan BCA, Selasa (10/10).
Tidak hanya itu, menurutnya, perbankan juga dapat memberikan pembiayaan kepada upaya penghematan energi, seperti pemasangan panel surya atap dan instalasi lampu hemat energi di gedung-gedung perkantoran dan pemerintahan.
Lebih lanjut, Gigih menyebutkan bahwa bank-bank di Indonesia telah memberikan dukungan finansial yang signifikan untuk pengembangan energi terbarukan dalam negeri. Pada tahun 2022, total pembiayaan perbankan untuk energi terbarukan mencapai Rp 15,6 triliun.
Kebutuhan pendanaan untuk pengembangan energi terbarukan diperkirakan mencapai US$ 29,4 triliun hingga tahun 2050 mendatang. Pendanaan ini dibutuhkan untuk membangun pembangkit listrik tenaga energi terbarukan, jaringan transmisi, dan infrastruktur pendukung lainnya seperti di KalimantanTimur yang akan dipasok PLTA.
“Nah dari pembangunan ini diharapkan mampu menarik investor pabrikan, apalagi ke depan emisi karbon itu bisa diperdagangkan, itulah peluang perbankan turut berkontribusi dekarbonasi sektor energi,” paparnya.
