Kemendag Siap Dukung Kebutuhan Operasi Smelter Freeport di Gresik •

Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan (kiri), didampingi Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Wenas, saat kunjungan kerja ke proyek pembangunan smelter PTFI di KEK JIIPE, Gresik, Jawa Timur, hari Selasa(28/11).

Gresik, – Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, mengatakan pihaknya siap mendukung kebutuhan operasi PT Freeport Indonesia (PTFI) menjelang dioperasikannya smelter kedua di Gresik, Jawa Timur. Salah satunya perpanjangan izin ekspor tembaga hingga smelter beroperasi.

“Kami berikan dukungan yang diperlukan, termasuk kemarin perpanjangan untuk peraturan izin ekspor (tembaga),” kata Zulkifli di sela-sela kunjungan kerja ke proyek pembangunan smelter PTFI di Kawasan Ekonomi Khusus Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur, Selasa (28/11).

Dalam kesempatan itu, dia juga mengapresiasi perkembangan pembangunan smelter kedua PTFI yang diharapkan segera beroperasi penuh. Dengan begitu, mampu mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di sekitar smelter.

“Saya bahagia, senang, perkembangan pembangunan smelter sudah mencapai 80 persen lebih. Saya kira ini membanggakan karena dipimpin anak-anak negeri. Konsentrat tembaga dikelola di sini secara bertahap dan kita punya saham mayoritas,” katanya Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas.

Tony mengaku optimistis smelter kedua PTFI akan mulai beroperasi akhir Mei 2024 dan secara bertahap ramp-up produksi penuh hingga Desember 2024.

“Progres smelter saat ini diperkirakan mencapai 83 persen. PTFI terus menyelesaikan beberapa pekerjaan guna penyelesaian konstruksi fisik pada akhir Desember 2023,” ungkapnya.

Pada awal 2024, jelas Tony, akan dilakukan pre-commissioning dan commissioning. Tahapan ini untuk memastikan seluruh peralatan dan fasilitas berfungsi. Dalam pembangunan smelter kedua ini, PTFI menanamkan investasi US$ 2,9 miliar atau setara Rp 43 triliun per akhir Oktober 2023, dari total anggaran US$ 3 miliar.

“Harapan kami relaksasi ekspor konsentrat tembaga dapat terus diberikan sampai smelter tersebut beroperasi penuh,” kata Tony.

Setelah beroperasi penuh, smelter mampu mengolah konsentrat tembaga dengan kapasitas produksi 1,7 juta dry metric ton (dmt) dan menghasilkan katoda tembaga hingga 600.000 ton per tahun. Adapun smelter pertama PTFI dibangun pada tahun 1996 dengan nama PT Smelting Gresik. Kedua fasilitas smelter ini adalah komitmen dan keseriusan PTFI dalam mendukung program hilirisasi nasional. PTFI dan Pemerintah Indonesia terus bahu membahu agar kedua smelter dapat memberi manfaat maksimal bagi semua pihak.