Terkait Penerapan CCS, IPA Minta Jangan Wait and See •
Chief of Infographic Sub Committee IPA Convex 2024, Hendra Halim (tengah), saat membahas Infographic IPA 2024 kepada para editor media massa nasional di Jakarta, Rabu (26/6).
Jakarta, – Visi Indonesia Emas 2045 perlu didukung oleh adanya pasokan energi yang cukup. Di saat yang sama, industri hulu minyak dan gas bumi (migas) juga dituntut untuk dapat meningkatkan produksi sambil mengurangi emisi karbon. Teknologi Carbon Capture Storage (CCS) menjadi pilihan yang wajib dipertimbangkan demi keberlanjutan pasokan energi di masa mendatang.
“Dengan kebijakan dan peraturan yang mendukung, pada masa transisi energi saat ini industri migas akan menerapkan CCS untuk mengurangi emisi karbon dan mendukung target Net Zero Emission (NZE),” ujar Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association (IPA), Marjolijn Wajong, Rabu (26/6).
Hal senada disampaikan Chief of Infographic Sub Committee IPA Convex 2024, Hendra Halim. Dia menjelaskan bahwa CCS merupakan cara yang paling efektif untuk dapat mengurangi emisi karbon dan sekaligus meningkatkan perekonomian Indonesia.
Berdasarkan data yang diungkap dalam Infographic IPA 2024, diketahui bahwa CCS dapat memberikan peningkatan Produk Domestik Bruto yang signifikan, yaitu sekitar US$ 478 miliar dan membuka lebih dari 53.000 lapangan pekerjaan hingga tahun 2050.
“Setiap 1 juta ton karbon yang ditangkap melalui CCS dapat menciptakan nilai ekonomi hingga Rp 4 triliun dan menambah kurang lebih 1.000 lapangan pekerjaan,” jelas Hendra.
Dia menyampaikan, Komite IPA Convex 2024 telah menerbitkan buku Infographic IPA 2024 dan menyerahkannya kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Arifin Tasrif, pada acara Pembukaan IPA Convex 2024 bulan Juli lalu. Secara garis besar, buku ini memberikan penjelasan menyeluruh tentang CCS, baik secara global maupun dalam konteks di Indonesia.
“Penerbitan Infographic tentang CCS ini merupakan tindak lanjut dari penerbitan IPA White Paper pada tahun 2023 yang lalu,” ungkap Hendra.
Menurutnya, Indonesia saat ini berpotensi menjadi pemimpin di regional dalam rangka penerapan teknologi CCS. Untuk itu, dia berharap agar seluruh pihak di Indonesia tidak lagi hanya bersikap wait and see. Pasalnya, ada negara tetangga yang sudah lebih siap dalam implementasi CCS, yaitu Malaysia.
“Jangan sampai ide yang berasal dari Indonesia justru disalip oleh negara lain,” tegas Hendra.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa Indonesia diberkahi keuntungan secara geologis dengan adanya banyak lokasi penyimpanan karbon dan industri migas yang sudah berpengalaman. Karena itulah, Indonesia diyakini dapat menjadi CCS Hub di regional. Namun hal tersebut membutuhkan kolaborasi yang tepat antara pemerintah dan industri migas.
“Ada empat prioritas utama yang dibutuhkan dalam kolaborasi ini, yaitu peraturan pelaksana CCS yang komprehensif, perjanjian lintas batas CO2, harga karbon, dan insentif CCS. Pemerintah harus fokus pada kemudahan berbisnis, kepercayaan investor, dan kepercayaan pemangku kepentingan,” papar Hendra.
Dalam kesempatan yang sama, Deputy Chief of Infographic Sub-Committee, Rina Rudd, menambahkan bahwa industri hulu migas masih sangat potensial di masa mendatang. Hal ini mengingat kebutuhan energi yang terus meningkat secara kuantitas.
Menuruut Rina, gas bumi merupakan salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan energi yang rendah emisi karbon. Terlebih lagi dengan adanya dua temuan besar sumberdaya gas di lapangan Geng North oleh Eni Indonesia dan lapangan Layaran oleh Mubadala Energy Indonesia.
“Kita harus segera memonetasi potensi gas tersebut agar bisa memberikan dampak ekonomi dan lingkungan ke depan nya,” tegasnya.
