Di Tengah Isu Lingkungan, Pengurangan Flare Gas Kian Intensif •

Flare gas (gas suar).

Jakarta, – Industri minyak dan gas bumi (migas) semakin diawasi dengan ketat dalam beberapa tahun terakhir karena masalah flare gas stranded yang diproduksi selama ekstraksi minyak mentah. Sementara volume pembakaran global terus menurun, lima negara pembakar gas teratas, yakni Rusia, Iran, Irak, Aljazair, dan Venezuela, hanya mengalami sedikit perubahan dalam tingkat pembakarannya.

“Industri hulu migas telah bekerja sama dengan penyedia teknologi dan peralatan untuk mengeksplorasi solusi alternatif guna mengelola flare gas,” ungkap perusahaan data dan analitik, GlobalData, dalam laporan terbarunya yang terbit, Senin (15/7).

Dalam laporan tematik terbarunya berjudul “Gas Flaring,” GlobalData mengungkapkan bahwa upaya untuk memonetisasi flare gas semakin meningkat, terutama di negara-negara seperti AS, Inggris, dan Norwegia. Meskipun terjadi penurunan volume flare gas secara global, negara-negara pembakar gas teratas terus mengeluarkan emisi dalam jumlah besar.

Padahal, sebagian besar negara ini telah berjuang untuk mengikuti tren global dalam mengurangi flare gas karena ketergantungan ekonomi mereka pada ekspor minyak dan akses terbatas ke teknologi mitigasi. Laporan ini juga mengulas keterlibatan para pemimpin industri, seperti BP, Chevron, ExxonMobil, Saudi Aramco, Shell, dan TotalEnergies, dalam mengurangi flare gas.

“Aktivitas flare gas telah lama dikaitkan dengan produksi minyak mentah. Ketika minyak mentah menjadi tulang punggung ekonomi dunia, flare gas menjadi lebih umum. Akhirnya, orang-orang mulai menyadari dampak buruk lingkungan dan kerugian moneter yang disebabkan oleh flare gas. Hal ini mendorong upaya global untuk memantau dan mengurangi aktivitas flare gas,” ujar Analis Migas GlobalData, Ravindra Puranik.

Perkembangan volume flare gas secara global. (GlobalData)

Bank Dunia memimpin upaya global untuk mengurangi flare gas melalui pemantauan emisi rutin dan mendukung para pelaku industri untuk mengekang aktivitas ini. Perusahaan migas serta beberapa pemerintah telah menandatangani inisiatif Zero Routine Flaring pada tahun 2030. Kolaborasi antara investor, pemerintah, dan perusahaan minyak ini telah menghasilkan tren penurunan volume flare gas secara global.

Meskipun flare gas mampu mencegah pelepasan metana secara langsung ke atmosfer (venting), namun pembakaran tersebut tetap menghasilkan karbon dioksida dalam jumlah yang signifikan. Investor yang peduli lingkungan telah memberikan tekanan kepada perusahaan migas untuk mengurangi aktivitas flare gas dan ventilasi. Salah satu investor tersebut adalah Bank Dunia, yang secara aktif mendukung pengurangan emisi melalui inisiatif yang sedang berlangsung.

Paris Agreement yang disepakati tahun 2015 telah memperkuat upaya untuk mengurangi pembakaran global. Peraturan baru pun telah diperkenalkan di negara-negara seperti AS dan beberapa negara di Timur Tengah, yang telah membantu mengurangi volume pembakaran. Bahkan ketika permintaan minyak bangkit kembali pada tahun 2022 lalu dan ekonomi dunia mulai pulih, volume flare gas relatif rendah dibandingkan tingkat sebelum pandemi. Tren ini diperkirakan akan bertahan di masa mendatang, melalui kerja sama global,” ujar Puranik.