Produksi Perdana Banyu Urip Infill Clastic 13.000 BOPD •

Acara peresmian Produksi Minyak Perdana Banyu Urip Infill Clastic Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur, Jum’at (9/8).

Bojonegoro, – ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), selaku operator blok Cepu, mengumumkan ditemukannya kolom minyak yang berada di atas sumur eksisting lapangan Banyu Urip. Penemuan ini dicapai lewat pengeboran sumur pertama, yakni sumur B-13, dalam program Banyu Urip Infil Clastic (BUIC).

Presiden ExxonMobil Indonesia, Carole J. Gall, menjelaskan sumur B-13 merupakan pertama dari total 7 sumur yang dibor menggunakan rig PDSI-40.3 sejak empat bulan lalu. Setelah beberapa hari berproduksi, sumur tersebut kini berproduksi 13.300  BOPD (barrel oil per day). Optimalisasi lebih lanjut pun terus dilakukan.

“Tambahan produksi ini akan meningkatkan produksi minyak di blok Cepu dan memperkuat ketahanan energi Indonesia,” ujar Carole di sela-sela acara peresmian Produksi Minyak Perdana Banyu Urip Infill Clastic Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur, Jum’at (9/8).

Lebih lanjut, dia menambahkan, kegiatan pengeboran BUIC menggunakan anjungan dan peralatan yang keseluruhannya dibuat di Indonesia dan dioperasikan oleh PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling), anak usaha PT Pertamina (Persero). Pengeboran ini menunjukkan tingkat kompetensi Pertamina Drilling di bidang pengeboran minyak dan gas bumi, serta dukungan industri hulu migas untuk tumbuh berkembangnya perusahaan nasional serta komitmen SKK Migas dan KKKS dalam mengimplementasikan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di industri hulu migas.

“Pengeboran BUIC ini juga melibatkan kontraktor lokal dan menyerap tenaga kerja setempat. Keterlibatan tersebut telah menambah nilai ekonomi di bagi masyarakat sekitar wilayah operasi,” ucap Carole.

Sementara itu, dalam sambutannya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, menyampaikan rasa syukurnya atas realisasi perdana produksi pemboran sumur infill clastic di tahun 2024. Ini disebutnya sebagai kado bagi peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Momen ini juga menjadi sarana mendorong optimisme atas masa depan industri hulu migas.

“Saat ini kita defisit minyak sehingga harus impor, harus terus dilakukan upaya meningkatkan produksi minyak, seperti yang telah dicanangkan bersama yaitu mencapai target 1 juta BOPD,” ujar Arifin.

Terkait pencapaian target untuk gas bumi, dia optimistis bisa dicapai dengan adanya temuan-temuan besar di sektor gas yang saat ini didorong dapat segera diproduksi. Tantangan yang ada di industri hulu migas adalah di minyak dan mengharapkan masukan dan kontribusi dari berbagai pihak.

Untuk itu, Menteri ESDM meminta upaya untuk peningkatan tidak hanya dari lapangan existing, tetapi juga dengan adanya kegiatan seismik baru, eksplorasi baru yang bisa mempercepat pendeteksian sumur-sumur baru. Indonesia masih banyak memiliki potensi minyak. Seperti di Blok Cepu yang hari ini sudah menghasilkan 630 juta barel dan berpotensi menghasilkan 1 miliar baru.

Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, menyampaikan bahwa  SKK Migas memberikan perhatian yang besar terhadap upaya menjaga produksi lapangan Banyu Urip agar tetap optimal. Pasalnya, lapangan minyak ini adalah kontributor nomor dua terbesar dengan kontribusinya yang mencapai sekitar 25 persen dari produksi nasional.

Menurut Dwi, produksi lapangan Banyu Urip telah melampaui yang ditargetkan dalam plan of development (POD). Ini berkat berbagai upaya dan terobosan yang dilakukan oleh SKK Migas dan EMCL dalam menjaga kinerja lapangan, yaitu meningkatkan produksi dengan tetap memperhatikan kemampuan dan daya dukung reservoir yang ada.

Setelah keberhasilan pemboran sumur pertama, diharapkan pada kuartal 4 tahun 2024 akan onstream pemboran sumur kedua dan memberikan tambahan produksi hingga 9.300 BOPD di tahun 2024 ini. Investasi untuk ketujuh pemboran sumur dengan ikut memperhitungkan pekerjaan subsurface yang mencapai US$ 203,5 juta atau setara Rp 3,25 triliun (kurs Rp 16.000 per US$). Program ini diperkirakan memberikan tambahan penerimaan negara sebesar US$ 2 miliar atau sekitar Rp 32 triliun serta diharapkan dapat memberikan tambahan minyak sebesar 42,92 MMSTB.