Indonesia-Jepang Sepakat Jalankan Program Dekarbonisasi Energi •
Indonesia dan Jepang menandatangani kerja sama program dekarbonisasi sektor energi di sela-sela acara pertemuan kedua AZEC Ministerial Meeting di Jakarta, Rabu (21/8).
Jakarta, – Upaya menekan emisi menjadi salah satu langkah penting bagi Pemerintah Indonesia dalam memenuhi target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2030. Jepang diplih sebagai partner penting dalam menjalankan program dekarbonisasi sektor energi melalui kerja sama atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO).
Kerja sama tersebut ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, dan Presiden NEDO, Yokoshima Naohiko, di sela-sela acara pertemuan kedua AZEC Ministerial Meeting di Jakarta, Rabu (21/8).
“MoU ini merupakan tahap awal untuk melakukan studi kelayakan bersama. Setelah itu, hasilnya akan dibahas di AZEC bersama pemerintah dan METI. Selanjutnya, akan ditentukan dukungan tambahan dari AZEC untuk pengembangan energi bersih di Indonesia,” ujar Dadan.
Dalam perjanjian ini, kedua negara sepakat untuk mendorong dekarbonisasi sektor energi melalui pemanfaatan sumber energi yang tersedia, penerapan teknologi energi bersih, serta efisiensi energi. Secara spesifik, Indonesia dan Jepang akan mengembangkan energi terbarukan, seperti tenaga surya, air, angin, dan bioenergi (biomassa, bio-metana, dan biofuel). Selain itu, keduanya juga akan memproduksi hidrogen dan membangun rantai pasokannya, serta mengoptimalkan teknologi konservasi energi, termasuk pembangkit listrik hibrid berbasis surya dan diesel, pompa panas (heat pump), dan sistem cogeneration WHP (waste heat to power).
Kerja sama ini juga mencakup penerapan teknologi elektrifikasi di sektor industri, pengembangan teknologi jaringan pintar, serta manajemen sisi permintaan. Di samping itu, Indonesia dan Jepang juga akan mengembangkan model Energy Services Company (ESCO), meningkatkan nilai tambah batu bara untuk keperluan industri–seperti produksi grafit buatan dan bahan kimia dari batubara hingga pengelolaan limbah dalam pengolahan mineral kritis.
