Di Tengah Isu Divestasi, Implementasi Prinsip ESG Vale Dapat Pujian •
Taman Kehati Sawerigading Wallacea merupakan fasilitas keanekaragaman hayati di dalam areal perusahaan PT Vale Indonesia Tbk, di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Jakarta, – Saat meresmikan Taman Kehati Sawerigading Wallacea yang berada di kawasan tambang Vale akhir Maret 2023 lalu, Presiden Joko Widodo mendorong perusahaan tambang di Indonesia meniru apa yang dilakukan Vale tersebut.
Pujian serupa juga pernah disampaikan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan. Bahkan, saat berkunjung ke tambang nikel dan smelter Vale di Sorowako, Sulawesi Selatan, akhir November 202 lalu, Luhut mengatakan Vale telah menerapkan praktik pertambangan yang baik.
Menurut Koordinator Nasional lembaga koalisi masyarakat sipil Publish What You Pay (PWYP) Indonesia, Aryanto Nugroho, penerapan prinsip dan standar Environmental, Social, dan Governance (ESG) dalam operasionalisasi industri ekstraktif itu merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Sejauh ini, pihak PT Vale Indonesia pun telah menegaskan komitmennya dalam operasionalisasi pengolahan nikel berusaha untuk menerapkan standar ESG internasional.
“Keuntungan ESG itu jangka panjang, bukan jangka pendek. Artinya, bukan sekadar cuan, tetapi standar lingkungan, keberlanjutan, dan ini masuk dalam bagian dari transisi energi berkeadilan,” ujar Aryanto dalam perbincangannya kepada media di Jakarta, Jumat (21/7).
Karena itulah, dia mengingatkan Pemerintah untuk berhati-hati dalam melakukan proses divestasi saham Vale Indonesia. Pemerintah, yang diwakili oleh Mining Industry Indonesia (Mind ID), dalam proses divestasi ini disarankan untuk tetap memperhatikan dan menjalankan prinsip ESG yang di dalamnya mendukung terwujudnya transisi energi bersih di Indonesia.
“Jangan sampai ingin memberikan keuntungan, justru divestasi (Vale Indonesia) itu membuat kerugian bagi masyarakat,” ungkap pemerhati persoalan industri ekstraktif ini.
Sebagai salah satu pelopor industri nikel di Indonesia, Vale Indonesia termasuk perusahaan yang berkomitmen pada penerapan energi bersih. Karena itu, menurut Aryanto, jika proses divestasi saham Vale Indonesia rampung, komitmen pada energi bersih dan penerapan prinsip ESG yang selama ini dilakukannya harus tetap dikedepankan dan menjadi agenda pemerintah.
“Kalau mau benar-benar transisi energi maka sudah tidak perlu ada lagi penggunaan energi batubara,” tegasnya.
Aryanto menilai, sejauh ini Indonesia masih perlu banyak mengejar ketertinggalan soal penerapan ESG dalam industri ekstraktif. Indonesia juga masih harus lebih banyak menerapkan prinsip ESG pada pemberian izin hingga syarat investasi.
“Dukung implementasi ESG, kemudian standar ESG diadop oleh pemerintah. Itu menjadi hal penting dalam proses divestasi,” ujarnya.
Aryanto pun meminta agar jangan ada lagi kemunduran dalam penerapan ESG di berbagai lini pemerintahan, termasuk industri ekstraktif.
“Kalau bicara soal industri jangan bangun lagi smelter-smelter yang memakai bahan bakar batubara. Karena transisi (energi bersih) itu jadi semu karena ada lagi batubaranya,” ucapnya.
