Ini Cara PLN Tekan Emisi Sambil Merehabilitasi Lahan •

Dari kiri ke kanan: Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Hariadi Kartodihardjo, Direktur Rehabilitasi Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Nikolas Nugroho, Vice President Pengadaan, Pengendalian dan Logistik Biomassa PLN Energi Primer Indonesia (EPI), Erfan Julianto, saat menjadi pembicara dalam acara Festival Lingkungan Iklim Kehutanan dan EBT (LIKE) di Jakarta, Minggu (17/9).

Jakarta, – PT PLN (Persero) melakukan pengembangan biomassa sebagai bahan baku alternatif energi bersih untuk mengurangi emisi karbon. Salah satunya melalui program co-firing atau substitusi sebagian batu bara Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan biomassa dari tanaman energi. Selain mampu membantu meningkatkan produktivitas lahan, upaya ini juga mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan.

Direktur Rehabilitasi Hutan (RH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Nikolas Nugroho, menilai langkah PLN dalam pengembangan biomassa sangatlah strategis. Pasalnya, Pemerintah telah memberikan peluang seluas-luasnya untuk pemanfaatan lahan tandus dan rehabilitasi hutan menjadi sumber energi bersih sebagai salah satu cara mencapai target Nationally Determined Contribution (NDC) sebesar 31 persen atas upaya sendiri atau 43 persen dengan bantuan internasional pada tahun 2030.

“Sesuai arahan Presiden dan Menteri LHK, kami sangat mendukung pengembangan EBT di dalam negeri. Lewat kebijakan tersebut, pemerintah memayungi aktivitas hutan tanaman untuk dikembangkan menjadi jenis komoditas yang mendukung pengembangan EBT,” kata Nikolas dalam Talkshow bertajuk “Menanam Harapan Energi Baru Terbarukan melalui Rehabilitasi Hutan dan Lahan” pada rangkaian acara Festival Lingkungan Iklim Kehutanan dan EBT (LIKE), Minggu (17/9).

Menurutnya, potensi hutan dan lahan yang bisa dikembangkan untuk menjadi sumber energi baru sudah diakomodir lewat kebijakan dan aturan yang dikeluarkan pemerintah seperti Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) nomor 62 tahun 2019 dan Permen LHK nomor 11 Tahun 2021.

Sementara Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Prof. Hariadi Kartodihardjo menilai pemanfaatan lahan yang berkelanjutan berperan penting dalam masa depan iklim. Tidak hanya itu, keterlibatan langsung masyarakat dalam mengelola hutan juga menjadi hal krusial.

“Keterlibatan masyarakat dalam pengembangan hutan bisa dilakukan. Meski memang aspek keberlanjutan dan juga tata kelola yang baik dari aspek masyarakat perlu didukung. Dengan penataan dan keterlibatan langsung, akan semakin banyak masyarakat yang ikut serta dalam pengelolaan hutan ini,” ujar Hariadi.

Green Economy

Lewat subholding PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), PLN melakukan uji coba pengembangan ekosistem green economy di Gunung Kidul, Yogyakarta. Lahan tandus yang tak terpakai disulap oleh PLN menjadi kawasan green energi sekaligus sebagai sumber kebutuhan pakan ternak.

Upaya yang selaras dengan prinsip Enviromental, Social and Governance (ESG) ini menjadi salah satu penguatan rantai pasok biomassa di Indonesia untuk teknologi co-firing. Lewat upaya ini, masyarakat desa juga mampu menghemat biaya pakan ternak dan memanfaatkan lahan tandus jadi sumber ekonomi baru.

Vice President Pengadaan, Pengendalian dan Logistik Biomassa PLN Energi Primer Indonesia (EPI), Erfan Julianto, menjelaskan bahwa pada tahun 2025, PLN EPI akan membutuhkan pasokan biomassa hingga 10,2 juta ton per tahun. Pengembangan ekosistem green economy dan juga sumber biomassa lainnya akan terus dilakukan oleh PLN EPI untuk memperkuat rantai pasok biomassa.

Pada tahun ini, rasio teknologi co-firing di PLTU sebesar 1-3 persen dengan jumlah volume biomassa sebesar 573 ribu ton. Pada tahun 2025, rasio teknologi co-firing akan ditingkatkan hingga 10 persen, sehingga dibutuhkan pasokan biomassa hingga 10,2 juta ton per tahun. Produk kehutanan yang dimanfaatkan PLN EPI seperti sawdust, wood chip maupun wood pellet menjadi salah satu produk unggulan kehutanan.

“Lewat teknologi ini tidak hanya bermanfaat bagi PLN tetapi juga bagi masyarakat luas karena pengembangan hutan energi dan pemanfaatan lahan tandus ini sesuai dengan prinsip circular economy atau ekonomi kerakyatan,” ungkap Erfan.

Pilot Project pengembangan ekosistem green economy di Gunung Kidul juga akan direplikasi oleh PLN EPI di beberapa wilayah Indonesia lainnya. Tanpa harus menggangu lahan produktif masyarakat, PLN justru akan memanfaatkan lahan tidur dan lahan tandus menjadi lahan produktif yang tak hanya bermanfaat bagi rantai pasok energi tetapi juga mendorong perekonomian masyarakat.

“Potensi lahan kritis dan potensi rehabilitasi lahan yang bisa dimanfaatkan mencapai 12 juta hektar. Ke depan, lewat dukungan pemerintah, kami akan memanfaatkan lahan ini sehingga bisa memberikan multiplier effect yang lebih baik bagi lingkungan dan juga masyarakat,” kata Erfan.