Ini Peran PLN EPI dalam Kembangkan Energi Bersih Basis Ekonomi Kerakyatan •
Jakarta, – Pemerintah Indonesia telah menegaskan komitmenya dalam pengurangan emisi karbon pada tahun 2024 mendatang. Program transisi energi ini, selain mencapai pengurangan emisi, juga sekaligus menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi.
Sekertaris Perusahaan PT PLN EPI, Mamit Setiawan, mengatakan PLN EPI mengambil peran penting dalam era transisi energi ini. Saat ini, PLN EPI gencar mengembangkan hutan energi dan juga pengelolaan sampah menjadi energi sebagai bahan baku alternatif pengganti batubara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
“Lewat teknologi co-firing di PLTU, PLN EPI mengembangkan ekosistem biomassa yang justru banyak melibatkan masyarakat sehingga program transisi ini juga mendorong perekonomian rakyat,” kata Mamit, Selasa (31/10).
Ekosistem biomassa ini dikembangkan oleh PLN EPI lewat kerja sama dengan berbagai pihak. Kerja sama dengan BUMN dan perusahaan sawit sebagai langkah menjamin pasokan biomassa.
Sedangkan keterlibatan masyarakat direalisasikan lewat pengelolaan hutan energi, pengelolaan limbah pertanian dan perkebunan, limbah pertukangan serta pengembangan Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP) yang diolah dari sampah rumah tangga.
PLN EPI mengembangkan hutan energi dengan masyarakat di DIY. Program yang dinamai Green Economy Village (GEV) ini mengembangkan tanaman energi sebanyak 500 ribu bibit yang nantinya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pakan sapi dan juga bahan baku biomassa.
Mamit menjelaskan, sepanjang tahun 2023 ini, PLN EPI telah memasok biomassa ke 41 PLTU PLN Grup dalam program co-firing. Implementasi teknologi ini mampu memproduksi energi bersih dari PLTU sebesar 718.458 MWh. Co-firing biomassa juga mampu menurunkan emisi hingga 717.616 juta ton CO2.
“Hingga September 2023, realisasi penggunaan biomassa mencapai 668.869 ton dari target tahun ini mencapai 1 juta ton biomassa,” jelas Mamit.
