Kolaborasi untuk Tingkatkan Kehandalan Fasilitas Hulu Migas •

SKK Migas bersama Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI) menyelenggarakan Forum Fasilitas Produksi Migas (FFPM) di Surabaya pada 26-28 Agustus 2024.

Surabaya, – SKK Migas bersama Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI) menyelenggarakan Forum Fasilitas Produksi Migas (FFPM) di Surabaya pada 26-28 Agustus 2024. Kegiatan ini digelar sebagai upaya meningkatkan kehandalan fasilitas hulu migas untuk meningkatkan kehandalan industri migas nasional guna mendukung ketahanan energi.

Kepala LEMIGAS, Mustafid Gunawan, yang dalam kesempatan tersebut mewakili Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengharapkan forum ini dapat menjadi wadah merumuskan langkah-langkah konkret dan strategi yang efektif untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang untuk meningkatkan kehandalan produksi migas nasional.

“Beberapa tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan fasilitas produksi Indonesia diantaranya lebih dari 60 persen fasilitas migas berusia lebih dari 20 tahun atau sudah masuk ke kategori aging facilities, yang mana kondisi tersebut sangat rentan terhadap kegagalan operasi dan unplanned shutdown,” ungkap Mustafid dalam sambutannya di acara pembukaan FFPM, Senin (26/8).

LEMIGADia juga menekankan perlunya peningkatan investasi untuk perbaikan ataupun penggantian terhadap fasilitas/peralatan yang sudah sering mengalami kendala teknis.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Eksploitasi SKK Migas, Wahju Wibowo, menyampaikan bahwa capaian investasi hulu migas Indonesia meningkat cukup signifikan, dalam dua tahun terakhir. Namun, produksi masih tertinggal dan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar dapat diatasi dan dicarikan solusi.

“Belum tercapainya target produksi sudah tereskalasi menjadi concern nasional. Ini menjadi tantangan bersama yang harus dihadapi. Dibutuhkan komitmen yang kuat terhadap perencanaan dan eksekusi. Tantangan-tantangan seperti waktu pengerjaan proyek yang bersamaan, keterbatasan kapasitas fabrikasi, serta kekurangan tenaga kerja dan kapal support menjadi faktor-faktor yang harus kita atasi dengan serius,” ungkap Wahju.

Lebih lanjut, dia mengajak para pihak untuk menghadapi tantangan ini dengan memiliki sense of urgency and sense of crisis serta terus melakukan inovatif dan berorientasi pada hasil. Pasalnya, kolaborasi yang erat antara semua pemangku kepentingan merupakan kunci untuk mencapai solusi yang efektif.

Sementara Ketua Umum IAFMI, Taufik Aditiyawarman, menyampaikan bahwa dalam menghadapi tantangan yang ada saat ini, sinergi dan kolaborasi antara seluruh pemangku kepentingan menjadi sangat penting. Untuk itu, perlu dirumuskan strategi yang efektif untuk menjawab kebutuhan industri migas.

“Kecepatan dan ketepatan dalam merumuskan dan menerapkan strategi ini sangat krusial. Time is of the essence – waktu sangat berharga, dan ketahanan energi nasional kita bergantung pada kemampuan kita untuk bergerak dengan cepat dan efektif,” ujar Taufik.

Kegiatan FFPM kali ini diikuti oleh sekitar 1.000 profesional dengan berbagai latar belakang keahlian, yang merupakan perwakilan dari perusahaan migas beserta perusahaan pendukungnya, baik internasional ataupun nasional. Selama tiga hari, ditampilkan juga 13 exhibitors dan 35 booth yang menunjukkan kolaborasi dengan berbagai pihak sebagai upaya bersama mendukung peningkatan kehandalan fasilitas produksi hulu migas.

Untuk meningkatkan peran aktif IAFMI dalam mendukung pengembangan sumberdaya manusia serta peningkatan teknologi yang unggul guna  menjaga daya saing industri migas nasional baik langsung dan tidak langsung, IAFMI melakukan penandatanganan Nota Kesepakatan Bersama dengan beberapa pihak yaitu Universitas Brawijaya bersepakat untuk berkolaborasi dalam pengembangan bidang pendidikan & penelitian; PT Surveyor Indonesia terkait dengan kolaborasi dalam bidang survey, inspection, verification, monitoring, serta jasa konsultansi di sektor energi, minyak dan gas.

IAFMI juga melakukan penandatanganan kesepakatan dengan Business Research and Education Support Center of Korea Maritime & Ocean University di bidang pengembangan lapangan energi, minyak dan gas.