PLTS Terapung Cirata Kurangi 214 Ribu Ton Emisi Karbon Per Tahun •
PLTS Terapung atau Floating Solar PV_Cirata berkapasitas 192 megawatt peak (MWp) ini dibangun di atas Waduk Cirata dan siap menyuplai listrik hijau ke 50 ribu rumah.
Purwakarta, – PT PLN (Persero) optimis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata mampu menjadi etalase percepatan transisi energi dalam mendukung pencapaian menuju Net Zero Emissions (NZE) tahun 2060. Sebagai PLTS terbesar di Asia Tenggara dan nomor tiga di dunia, PLTS ini mampu mengurangi emisi karbon sebesar 214 ribu ton per tahun.
PLTS Terapung Cirata merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) hasil kolaborasi dua negara yakni Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA), yang melibatkan subholding PLN Nusantara Power dengan Masdar.
Dibangun di atas permukaan air waduk Cirata, PLTS seluas 200 hektare ini mampu memproduksi energi hijau berkapasitas 192 Megawatt peak (MWp) untuk menyuplai listrik bagi 50 ribu rumah.
Melihat luasan Waduk Cirata hingga lebih dari 6.200 hektare, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, optimis kapasitas produksi PLTS Terapung Cirata masih bisa dioptimalkan hingga 1,2 Gigawatt peak (GWp).
“Kapasitas PLTS Terapung Cirata masih bisa dikembangkan lebih besar lagi, dengan total potensi maksimum mencapai sekitar 1,2 GWp apabila memanfaatkan 20 persen dari luas total waduk Cirata,” ujar Arifin di sela-sela peresmian PLTS Terapung Cirata di Kabupaten Purwakarta, Kamis (9/11)
Tak hanya itu, menurut Arifin, pengembangan pembangkit solar PV skala besar ini bisa menjadi daya tarik industri untuk membuat bahan baku solar PV.
“Ke depan harapannya bahan baku bisa dikembangkan di Indonesia supaya TKDN-nya bisa full,” ungkapnya.
