Telen Orbit Prima (TOP) Lakukan Transformasi Digital Jembatan Timbang Otomatis dari Widya Matador

Jakarta, TAMBANG – Dunia pertambangan batu bara sedang dilanda kecemasan. Pelemahan yang terjadi di pasar ICE Newcastle memperpanjang tren negatif batu bara menjadi tiga hari beruntun sejak Selasa, 10/01/2023. Hal ini berdampak pula ke salah satu produsen batu bara terbesar di dunia, yaitu Australia. Negara kangguru ini sedang merencanakan pencadangan hingga 10% dari produksi batu bara untuk Domestic Market Obligation (DMO).

 

Fahmy Radhi, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada, menilai bahwa hal ini justru memberi dampak positif bagi Indonesia. Dengan adanya kebijakan tersebut, secara tidak langsung akan mengurangi pemasok batu bara dunia, sehingga meningkatkan peluang pasar ekspor batu bara di Indonesia. Hal ini akan mempengaruhi kebutuhan sumber daya manusia untuk kegiatan pertambangan. Karena demi memenuhi peluang pasar ekspor tersebut, otomatis membutuhkan produksi batu bara yang lebih besar lagi, yang mana tentunya membutuhkan tenaga ekstra.

 

Salah satu upaya yang dapat dilakukan, yaitu melakukan efisiensi sumber daya manusia dengan mengoptimalkan posisi pekerjaan para karyawan. Hal ini menjadi kesempatan bagi Widya Matador yang telah menghadirkan solusi untuk mendukung efisiensi tersebut. PT Telen Orbit Prima (TOP), menjadi salah satu perusahaan batu bara yang sudah bekerja sama dengan Widya Matador demi kelancaran penerapan transformasi digital.

 

Widya Matador menawarkan solusi berbasis Internet of Things (IoT) untuk sistem otomasi jembatan timbang, yaitu Smart Weighbridge Automation. Dengan sistem otomasi jembatan timbang, pengukuran muatan dapat dilakukan secara cepat dan efektif. Sehingga dapat meningkatkan kecepatan proses produksi batu bara yang tentunya akan berpengaruh pada banyaknya batu bara yang dihasilkan.

 

Faris Al Husaini, VP Sales & Marketing Widya Matador mengatakan jika proses penimbangan bisa dilakukan lebih cepat, tentunya jumlah produksi batu bara akan lebih meningkat tiap harinya. “Bayangin aja kalau ngukurnya masih manual. Sudah lewat berapa ton yang harusnya bisa diangkut dan diukur di hari itu juga. Dan secara sumber daya manusianya, akan lebih efisien. Bisa dialihkan ke pekerjaan lain.”, jelas Faris.

 

Untuk melakukan pengukuran muatan, truk bermuatan batu bara seperti biasa hanya cukup naik ke jembatan timbang. Yang berbeda adalah cara pengukurannya. Saat ini truk dilengkapi dengan kartu yang cukup melakukan scan barcode dan data-data pengukuran akan langsung ditampilkan pada layar. Secara bersamaan, sistem akan terintegrasi pada pusat dan hasil pengukuran langsung masuk ke sistem pendataan.

 

Sistem otomasi jembatan timbang yang ditawarkan oleh Widya Matador juga memiliki dashboard reporting dan penyimpanan data lokal untuk mengatasi jaringan tidak stabil. Selain itu, kecanggihan Internet of Things (IoT) membuat teknologi jembatan timbang Widya Matador tidak lagi membutuhkan operator. “Harapannya sudah benar-benar 100% beroperasi tanpa operator. Tapi, sementara ini masih perlu bantuan SDM untuk mengawasi. Hanya mengawasi saja, bukan melakukan pengukuran”, tuturnya.

 

Widya Matador juga menjangkau beberapa perusahaan tambang lainnya. Semakin banyak perusahaan tambang yang menerapkan otomasi pada jembatan, maka menimbang muatan akan lebih praktis dan meminimalisir kecurangan yang mungkin terjadi. Disamping meningkatkan kuantitas produksi barang tambang, juga dapat menekan cost perusahaan pada proses penimbangan karena tidak lagi membutuhkan operator.